Kasus Siswi SMP "Nembak" Siswi SD, Siapa Benar ?

22.36

What the fucking Hell!!, itu kata terlintas dalam pikiran saya ketika tanpa diminta muncul berita ini di timeline facebook saya, dan tepat seperti yang saya duga bahwa foto viral ini sudah sempat membuat geger dunia persilatan sosial network, berbagai komentar dan hujatan muncul dan hampir 90% menyalahkan Televisi dan antek-anteknya (perangkat selular dan elektronik). Benarkah ?




Foto viral seorang siswa SMP, berinisial AM, yang diduga  ‘menembak’ siswi SD berinisial MP di media sosial menimbulkan keprihatikan Netizen. Dalam foto tersebut, seorang siswa SMP yang masih mengenakan seragam biru putih bercelana pendek menyatakan cinta pada seorang siswi SD yang juga masih mengenakan seragam merah putih. Anak lelaki itu menyerahkan kue tart dan boneka dari karakter film Disney sebagai hadiah bagi si gadis. (news.fimadani.com)

Ada yang mengatakan, menjawab pertanyaan apakah konten televisi mempengaruhi prilaku sosial dari anak remaja sekarang ? sama seperti menjawab siapa duluan diciptakan Tuhan ? Telur atau Ayam. 


Pertama, bisa jadi, bahwa kejadian cinta-cintaan di sekolah itu terjadi di sekeliling kita, dan televisi mampu mengemasnya lebih manis, lebih indah dan tak realistis. Namun, saya rasa tidak sepele itu masalah, suka tidak suka, mau tidak mau, media televisi bukan hanya sebagai sarana hiburan dan informasi, tapi juga sebagai sarana pendidikan. 


Saya prihatin dan khwatir, saya punya adik sepupu perempuan umur 5 dan 7 tahun yang tanpa pengawasan kami (orang dewasa baik saya ataupun orang tuanya) sering mencuri-curi untuk menonton televisi (tentunya sinetron), tapi daripada mengkhwatirkan kisah cinta-cintaan itu saya lebih takut andaikata adik-adik saya mempunyai karakter seperti ini :


Iri dan Cemburu. 100% karakter atau jalan cerita dari sinetron atau tayangan indonesia bermotifkan cemburu atau iri, baik iri karena kekayaan, iri karena melihat orang lebih bahagia, atau iri melihat orang lebih sukses, tidak ada kegiatan yang lebih tidak penting saat kita sibuk iri melihat orang lain.


Dendam. Tanpa ada dendam di sineteron indonesia, mungkin Tersanjung tidak akan bertahan 12 tahun, dendam menciptakan konflik dan konflik membuat cerita semakin panjang tapi ingat, bangsa Indonesia bukan bangsa pendendam, karena dendamlah biasanya konflik di dunia nyata juga terjadi baik di usia para remaja.


Tidak Disiplin. Ada ungkapan di Finlandia "Jangan takut ketika anak tidak bisa membaca, atau menghitung tapi takutlah ketika anak tak bisa mengantri". Mungkin ini yang harus coba di perlihatkan sinetron kita, mencoba menertibkan atau mendisiplinkan para pemeran terutama yang mengambil cerita atau tema anak sekolahan. Karena, di Indonesia kita tak pernah diajarkan untuk mengantri, sejak kecil kita hanya di nilai berdasarkan Angka dan Huruf. Disiplin sejatinya ditanamkan sejak dini, namun jika terlambat ? maka media punya peran propaganda menciptakan kondisi dengan sineteron atau tayangan-tayangnya yang membuat para penonton beranggapan bahwa "Disiplin itu keren". Sanggupkah para insan Televisi ?


Narsistik. saya pinjam istilah Oscar 2015, tayangan di Indonesia itu terlalu putih (soo white!!). Rasis memang, ketika peran utama di serial televisi di perankan oleh yang punya ganteng dan rupawan (minimal keturunan bule). Bagaimana dengan yang wajah indonesia banget ? kulit hitam dan coklat ? biasanya hanya jadi pemeran pembantu dan tambahan untuk bahan lelucon, bullying dan tertawan. Nah, jika ada anak yang minder karena dia tidak putih, ganteng, cantik ? dan merasa takut akan jadi bahan propaganda sinetron ? (ah.. terlalu ekstrim bayangan saya).


Melihat kasus diatas, memang sangat memilukan hati masa-masa SD yang dihiasi dengan bermain, sudah tergerus oleh mudah dan pesatnya zaman. Menurut teori peternakan, suatu ternak yang baik dipengaruhi oleh bibit (30%) dan Lingkungan (70%), sama seperti manusia apakah anak-anak kita di zaman ini punya cukup waktu untuk bercanda dan berbagi cerita dengan orang tua ? 

apakah orang tua peduli apa yang dilihat ? dikerjakan? dan dilakukan oleh anaknya ?
AH, toh saya pun masih lajang. satu beban di pikiran saya,
andaikata pasangan "muda" kita ini bertengkar dikemudian hari, dan salah satu dari mereka berkata "bisa gag sih berpikir dewasa ?"
rasanya. geretan sekali sepertinya.

Penutup dari saya :



"Maju atau Tidaknya Bangsa suatu Negara, dapat dilihat dari apa yang ditayangkan Televisinya dari Pukul 19.00 hingga pukul 22.00" (I.S Ritonga, 2015)

Artikel Menarik Lainnya

0 komentar

Like us Facebook

Ikuti Saya