Menjadi Suporter Sepakbola

01.25

Saya mengenal sepak bola sudah sangat lama, dari mulai memainkan di waktu usia dini dengan sandal sebagai tiang gawang (percayalah, jika anda anak Indonesia pasti akan mengalami masa masa membahagiakan itu) hingga menjadi penonton dan fans pada suatu klub. Saya punya memori pertandingan pertama yang saya tonton di layar kaca yaitu saat adu pinalti Final 1994 Brazil vs Italia, saya masih 4 tahun dan tidak tau apa apa, terbangun dini hari dan melihat ayah saya berbicara sendiri di depan tv, saya mengintip karena ingin tahu apa yang beliau saksikan jika bos tau pasti saya di kembalikan ke kamar tidur, kala itu saya lihat pemain dengan rambut kuncir gagal menendang bola (setelah beranjak sd saya tahu itu Roberto Baggio), ayah saya melompat dari kursi, sejak itu sampai sekarang saya tahu bahwa bos saya selalu menjagokan brazil di Piala Dunia apapun.

Final Piala Dunia 1994, menjadi pertandingan sepak bola pertama yang saya lihat secara tak sengaja
saat itu mungkin berumur belum genap 5 tahun
Semuanya punya tahapan, jika pacaran punya tahapan kenalan – pedekate – jadian, menjadi fans sebuah klub sepakbola juga punya tahapan, ikut-ikutan – karbitan – dan fans beneran. Ada banyak alasan buat seseorang menjadi fans sepakbola, bisa karena timnya selalu mendapatkan kemenangan, juara setiap musim, pemain-pemain ciamik, paras rupawan pemain (wanita umumnya, lelaki terkadang), atau karena masalah mainstream dan tidak mainstream saja. Saya pun juga seperti ituh, selama hidup juga pernah berganti-ganti klub jagoan, kali ini saya coba ceritakan pada pembaca tentang dinamika saya menjadi seorang fans klub sepakbola


Berawal dari Jersey (A.C Parma 1997 – 2000) 

Buat pemuda yang lahir era 90-an, tentu lebih mengenal pemain dari liga italia di tahun 90an hingga 2000an awal (saat belum akhlil baliq mungkin), apa sebab ? di masa itu liga italia merupakan liga nomor 1 dunia, bukan Cuma itu saja penanyangan di Indonesia juga sangat ramah, beberapa pertandingan liga italia disiarkan sebelum jam 9 malam, tentu memudahkan anak – anak di era kami untuk menyaksikannya. Bayangkan penanyangan liga inggris dan spanyol saat itu rata-rata di atas jam 10 malam, yah diatas jam tidur anak anak di era kami


Jersey pertama saya yang saya punya dari klub Parma, dibelikan setelah saya merengek karena saat itu hanya saya mungkin yang tidak punya baju bola. Nah, ini lah awal mulanya, saat bermain bola saya cenderung bermain di sektor pertahanan jika tidak jadi kiper pasti jadi libero/sweeper postur saya tinggi tapi kurus dan bisa tackling di usia dini (sekarang saya udah overload 15 kg), saya sering dijuluki kawan sebaya sebagai Lilian Thuram mungkin bukan karena permain, tapi karena warna kulit, ingat rasisme memang jadi bagian anak Indonesia di masa saya!.

Saya menjadi fans parma saat itu, simple saja (bukan karena masalah lilian thuram) tapi karena jersey yang dibelikan, malu dong punya baju bolanya tidak tahu siapa pemainnya, saya pun banyak mengupdate berita tentang parma di Tabloid Bola. Beberapa pertandingan parma juga saya lihat di layar kaca, tapi memori tidak sanggup mengingatnya lagi, saya juga sangat ngefans melihat duet strikernya sangat haus gol Crespo – Chiesa, kemudian di tengah ada Veron, Diego Fuser, Fiero, Dino Baggio, di belakang ada sesensi, thuram, dan cannavaro, di kiper ? ada kiper muda berbakat dan kelak menjadi langganan tetap timnas italia Gianluggi Buffon. Di masa itu Parma sedang di masa jaya nya anak mana yang gag fans ? permainan bagus, sering angkat Piala (copa italia, dan uefa untuk scudetto belum sepertinya), dan punya pemain top.


Recoba dan Inter Milan (1999-2003)

Inter Milan menjadi klub sepakbola ke-2 yang menjadi pelabuhan hati saya, alasan ? pertama karena ayah saya, kedua karena alvaro recoba. Yah, jauh sebelum el pistore yaitu si Luis Suarez menjadi ikon sepakbola Uruguay, saya masih menganggap Recoba lebih baik (subjektif memang), sayang recoba bukan sosok untuk tempat media berjualan surat kabar. Sosoknya kalem, giginya sedikit maju, dan cenderung tidak punya masalah apapun selama berkarir sebagai pemain. Saya pun sangat menantikan penampilan recoba, terutama ketika set pieces milik Inter Milan sayang sekali beliau sering menepi karena cidera, menonton inter pun jadi hambar, apalagi Inter cenderung angina-anginan, rasa sayang pun hampir pudar. 


Lama kelamaan pun saya bosan dengan liga italia, terutama ketika Liga Inggris mulai menyasar pasar Asia, jam tayang pun di mundurkan, bahkan ada pertandingan di mulai jam 6 sore, ditayangkan seminggu 5 kali oleh tivi 7 (sekarang trans 7), puncaknya ketika kasus calciopoli mendera sepak bola italia, saya tidak tau kronologisnya intinya Juventus dihukum ke Seri – B (saya senang luar biasa, saya sangat anti juventus, alasanya rasanya banyak keputusan pengadil lapangan cenderung menguntungkan mereka) dan Inter Milan menjadi juara, yah scudetto tanpa perayaan saya pikir jika pihak Inter lebih gentleman, tidak menerima scudetto dengan kata lain 2 musim di Seri A yang terkena skandal Calciopoli diputihkan saja tanpa juara atau 2 musim itu tidak diakui.


Juventus dan Liverpool (2004 – Sekarang)

Seperti yang saya tuturkan sebelumnya, Liga Inggris mulai ramah untuk penonton layar kaca di Indonesia, ada beberapa tim yang menarik perhatian saya (istilahnya jadi favorit belum sampai fans), Arsenal dan Liverpool. Arsenal di masa itu sangat super sekali, seperti tim yang diciptakan oleh Tuhan ketika bermain sangat cepat layaknya kesetanan, bahkan tak terkalahkan 1 musim, rata-rata lebih 2 gol di satu pertandingan, sangat menghibur sekali untuk penonton awam. Kalo Liverpool ? saya juga bingung menjelaskannya karena apa, pemain tidak, tapi saya senang menontonnnya perlahan timbul rasa sayang, ketika saya mengenal taruhan bola di sekolah SMP dan SMA saya selalu yang pegang Liverpool terutama jika Liverpool disiarkan kandang penontonnya di Anfield Stadium sangat riuh, rasanya mirip dengan Kanjuruhan, Malang.


Taruhan inilah yang mungkin menjadi titik awal saya jadi fans Liverpool, kala itu di Perempat Final Liga Champions 2004/2005 Liverpool berjumpa dengan Juventus, dari situ saya mengetahui bahwa ada Tragedi yang melatarbelakangi panasnya pertemuan mereka. saat itu saya tidak terlalu penting tentang sejarah pertandingan, yang jelas ini pertandingan gengsi saya sudah dikenal anti juventus, dan dianggap beberapa kawan saya sebagai fans Liverpool. Saya tidak perduli anggapan bahwa Juventus lebih diunggulkan, taruhan pun di mulai nyaris satu kelas menjadi lawan saya, dari mulai taruhan 3rb sampai 50rb, hasilnya ? saya menang! Saya satu satunya (mungkin) yang tersenyum datang ke sekolah pagi itu, saya kaya mendadak kantong saya tebal, senang luar biasa.

Saya menjadi fans Liverpool, apapun beritanya saya baca, saya kecewa luar biasa ketika Liverpool hanya bertengger di posisi ke-5 klasemen saat itu, tidak ada cara lain untuk menjadi peserta Liga Champions musim depan Liverpool harus juara ? siapa lawannya ? A.C Milan bung salah satu klub tersukses di eropa dan italia. Lagi-lagi saya sendiri, pasaran di sekolah saya Liverpool di por ½ atau 1 gol, karena sudah terlanjur gengsi dari beberapa seri pertandingan selalu pasang Liverpool, akhirnya saya pun mengambil semua perjudian ini, saat itu total taruhan mencapai ratusan ribu dengan hampir puluhan pelaku melawan 1 orang, melibatkan hampir semua elemen sekolah (kecuali guru), dengan por gol untuk Liverpool dengan pertandingan seri saja saya juga menang. (catatan: saya menggadaikan handphone nokia 8210 dengan nominal yang tidak saya sebutkan disini).

Pertandingan pun di mulai, saya menyaksikannya dirumah bersama ayah saya, beliau juga menjagokan Liverpool. GOl, pertandingan baru saja di mulai Maldini membuka keunggulan Milan 1-0, asa kemenangan pun terkikis, Liverpool terus menerus di tekan Milan, hingga kemudian Milan melengkapi kemenangan 3-0 di babak pertama (crespo 38,42).

Perasaan saya rasanya hancur, bukan karena Liverpool kalah tapi memikirkan uang yang rasanya sudah pasti dimiliki oleh orang lain, tidak ada yang lebih hancur ketika taruhan bola dengan skor 3-0 di babak pertama, mau dimana muka saya ? yang lantang di sekolah mengatakan bahwa Milan akan bernasib sama dengan juventus, tidak terasa air mata saya meleleh, saya memutuskan cuci muka dan sholat, sekaligus berjanji andaikata Liverpool dapat mukjizat buat memenangkan pertandingan Final ini, maka ini akan jadi pertaruhan terakhir saya dan perjudian terakhir saya.

Babak ke 2 dimulai, rasanya ada yang berubah dari Liverpool, sepertinya menumpuk banyak gelandang, keputusan tepat saya rasa, meskipun sewaktu itu saya baru kelas 3 SMP, saya tahu bahwa Liverpool kalah di lini tengah, terutama membiarkan pemain sekelas Kaka dan Pirlo bebas mengkreasi bola kali ini di babak ke dua sudah mulai ada perlawanan. Ada yang menarik saat pertandingan babak ke 2 dimulai, rasanya supporter Liverpool tidak ada yang patah semangat terus bernyanyi lagu You’ll Never Walk Alone di alunkan berkali-kali, maknanya sepertinya bukan untuk kepercayaan diri tapi lebih ke arah simpati dan berdoa, di masa ini saya berpikir waktu itu supporter terus berkata di dalam hati mereka "Kami masih bangga denganmu, kami masih bersamamu, jangan menyerah."

Seperti yang kita ketahui sekarang, inilah menjadi titik awal salah satu final terbaik sepanjang masa, keajiban sepertinya berpihak ketika Steven Gerrard mencetak gol dengan sundulan terarah menyambut umpan Risse di menit 54, stadion langsung pecah bergemuruh, para pendukung Liverpool berdiri. Saya terpana melihat sosok sang kapten “Steven Gerrard”, beliau mungkin belum genap berusia 25 tahun saat itu, namun bisa memberikan semangat inspiratif buat para pemain yang usianya jauh diatasnya, selebrasi gerrard mengangkat kedua tangannya ke udara berkali kali seolah memberikan dua makna, untuk pemain di lapangan sebagai pendorong semangat pantang menyerah mengatakan bahwa kita belum habis, masih ada kesempatan, masih ada waktu, dan pesan untuk penonton ? “bernyanyilah lebih keras, lebih keras dan lebih keras”.

Hanya butuh 2 menit buat Liverpool menciptakan gol ke dua, ialah Vladmir Smicer dengan tendangan keras mendatar dari luar kotak pinalti, gol ini membangkitkan asa Liverpool menghancurkan mental AC Milan yang belum sempat bangkit setelah gol pertama. Totalnya hanya butuh 6 menit untuk menyamakan kedudukan setelah gerrard di jatuhkan di kotak pinalti oleh gattuso, Xabi Alonso maju untuk mengeksekusi tendangannya di blok oleh Dida namun bola rebound langsung disambut Alonso, skor imbang 3-3 seolah olah mukzijat itu nyata, doa saya rasanya terkabul tim ini bermain dengan semangat luar biasa hingga babak ke-2 selesai. Karena, perjanjian taruhannya saya di poin ½ hingga 1 gol artinya saya sudah menang, dan uang sudah di tangan, tapi kayaknya bukan itu lagi yang jadi perhatian, saya ingin lihat para anfield ganks mengangkat piala, terutama S. Gerrard, dan tercatat dalam sejarah akhirnya Liverpool meraih piala champions ke-5 di Istanbul, dan menjadi drama final paling epic sepanjang masa, menjadi pembuktian bahwa mukjizat dan keajaiban itu ada selagi kita tidak pernah lepas berusaha, dan akhirnya sampai sekarang saya menjadi supporter Liverpool hingga detik ini, baik dalam kondisi terhancur sekalipun.


Bagi saya sepengggal lirik dari lagu You’ll Never Walk Alone, bisa jadi penyemangat dikala situasi apapun :

Walk on through the wind, (Berjalanlah melewati angin,)
Walk on through the rain, (Berjalanlan melewati hujan,)
Though your dreams be tossed and blown. (Meski mimpimu jatuh dan hancur.)
Walk on walk on, with hope in your heart (Berjalanlah terus, dengan hati yakin)
And you'll never walk alone (Dan kau tidak akan pernah berjalan sendirian)

Beginilah sepenggal kisah saya dalam menikmati pertandingan sepakbola dengan menggemari sebuah tim sepakbola, apapun alasan kita untuk menjadi supporter sebuah tim ataupun perbedaan dalam menggemari suatu tim tidak membuat persaudaraan sesama kita menjadi renggang, karena toh kita hanya supporter layar kaca, sejatinya kita menonton permainan sepakbola bukan tim sepakbola, kesulitan kita menerima kemenangan tim lawan karena kita focus pada tim bukan pada faedah dari permainan sepak bolanya. Sekian posting panjang tak bermutu dari saya. Adios. 

Artikel Menarik Lainnya

1 komentar

Like us Facebook

Ikuti Saya