Terlalu Berharap Part I

20.27


              

                Harapan
                Sebuah kata, tapi tak berarti apa-apa
                Harapan
                Sebatas asa, tanpa ada cita
                Harapan
                Cuma berharap tanpa ada tindakan
                Harapan ?
                Sekedar berharap saja sulit.

                Hampir satu setengah tahun saya tidak pernah menulis, rasanya otak sudah mulai tumpul dan ternyata memang sudah tumpul bahkan untuk merangkai kata menjadi kalimat saja butuh berbulan – bulan. Memang rasanya tubuh dan otak ini terlalu di manjakan, nyaris selama lulus kuliah rasa kritis terhadap persoalan bangsa dan umat tidak pernah terpikirkan. Arus informasi yang minim, lawan berbicara yang terkadang tak seimbang sehingga sulit menghasilkan gagasan dan ide menarik dari lubang kandang. Hari hari pun Cuma dihabiskan dengan mengurus ayam milik perusahaan asing, bukan karena Negara atau pengusaha direpublik ini tidak mampu Cuma mungkin semangat untuk menikmati hasil tanpa bekerja keras dan berkeringat darah sepertinya sudah mengalir dalam tubuh setiap penghuni di republik ini. Padahal bukan kah tidak akan nikmat hasil tanpa diiri dengan perjuangan tanpa henti ? dan kali ini saya akan menulis satu hal yang masih saya perdulikan yaitu SepakBola

                September 9 2013

                Hari itu bermula, apapun yang terjadi dan apapun kejadian di hari itu pastikan bahwa kami tidak boleh diganggu dari pukul 19.00 sampai peluit akhir dibunyikan oleh sang pengadilan lapangan. Untuk hari ini ke-sekian kalinya Indonesia mampu melaju hingga ke final dan selangkah lagi akan mengangkat piala setinggi – tinggi nya optimisme membumbung tinggi di seluruh masyarakat, bursa taruhan pun jadi sepi dikaranakan para Bandar Judi pun tidak mau kehilangan nasionalisme saat itu, dan saya juga Indonesia nyaris tidak pernah juara di segala macam tingkat umur sejak sea games 1991 (kenapa nyaris ? kita berulang kali masuk final dengan gagah, tapi ketika di final seperti mesin yang sudah kehabisan bensin), rasa khawatir ada karena lawan saat itu ialah Vietnam yang notabenya lawan yang belum bisa dikalahkan sejak penyisihan grup.



                Dan setelah melewati babak-babak yang panjang, akhirnya Indonesia juara! Suasana mess pecah! Komentator menggila si “jebret” valentino simanjuntak berulang kali mengatakan kalimat-kalimat motivasi yang sebenarnya lebih pas di ucapkan saat pelatihan kepemimpinan mahasiswa tapi terserahlah kita juara, tidak hanya keberuntungan  tapi juga  diiringi permainan cantik dan Indonesia banget (1-2 operan, minim umpan panjang, pemain sayap cepat khas Indonesia dan berani menusuk) dan stamina luar biasa. Saat itu saya berpikir (dan mungkin sebagian rakyat Indonesia di republik ini juga) bahwa harapan itu masih ada, bahwa sepertinya akan terjuwud mimpi-mimpi yang pernah ada untuk cabang olahraga yang paling diminati di Indonesia dan juga diseluruh dunia ini.

                Setelah juara AFF, hal yang paling saya takuti adalah 1 hal, apakah para punggawa timnas mendapatkan 2 hal yang biasanya umum dilakukan untuk menyabut para atlet yang sukses berlaga yaitu jadi bintang di infotaiment dan media serta jadi bintang salah satu produk peternakan kita sebut saja sosis. Kita tentu tidak mungkin lupa ketika AFF 2010, punggawa timnas begitu dianggung2kan, dibawa kemana-mana, diliput kesehariannya, diajak ikut istighasa di pesantren, bahkan sampai striker dan  juga kapten timnas saat itu Bambang Pamungkas mengatakan “perlu diingat, kita baru mencapai final, kita belum juara” benar kata bepe. Dan tragis Indonesia kalah konyol dan jadi bulan-bulanan Negara tetangga dan serumpun, mari kita renungkan.



                Keputusan cerdas dari menpora dan coach indra syafri, untuk tidak melibatkan anak didik menjadi bagian dari komersialisasi produk di usia dini, bukan tidak boleh menurut saya itu menjadi keuntungan finansial bagi para pemain menjadi bintang iklan tapi saya sedikit percaya sama namanya kutukan melihat fakta bahwa para atlet yang menjadi bintang iklan di Indonesia berakhir dengan buruknya performanya di kemudian hari (mungkin hanya pendapat saya, apakah ada yang merasa sama ?)


Bersambung…

Artikel Menarik Lainnya

0 komentar

Like us Facebook

Ikuti Saya