Terlahir Biasa Saja

15.10

Sudah 6 tahun rasanya, ketika awal pilihan yang menentukan dimulai. Saat itu tak terpikirkan hidup bakal seperti ini, sepertinya indah rasanya jika hidup dilakukan tanpa melakukan apa apa dan memikirkan apa – apa, tapi pilihan harus ditetapkan tapi sebaik – baiknya pilihan, sepahit – pahitnya cobaan dan se gila –gilanya resiko yang harus diambil akhirnya orang tua juga yang menentukan. Aku pikir aku tidak sendiri mengalami hal yang sama, memang ada ribuan anak atau pun remaja yang mengalami kebimbangan hati.
                saya bukan siswa yang tcerdas, juga buka siswa yang terlalu terbelakang terkadang bisa jadi pemecah kebuntuan di suatu persoalan tapi bisa menjadi keledai untuk jadi bahan tertawan, jika bisa dikelompokan ada beberapa tipe siswa dalam sekolah :

-          Tipe Populer
Cirinya :
untuk siswa laki :
o   dengan kemampuan olahraga diatas rata-rata plus ditopang fisik bagus dan wajah rupawan, terkadang tidak perlu juga kemampuan di atas rata-rata asal wajah anda mampu membuat para wanita menjerit histeris itu sudah cukup, apalagi siswa itu merupakan warga keturunan (catat: bukan keturunan cina, atau india apalagi kulit hitam) rasis memang tapi ini fakta. Dunia memang kejam untuk mereka yang berkulit hitam dan bermata satu garis.
o   Lalu untuk menjadi popular berikutnya ditopang dengan kemampuan seni (bisa dengan suara atau dengan kemampuan memainkan alat kelamin maaf alat music maksud saya), sekali lagi tidak perlu modal suara bagus, persetan dengan kemampuan alat music anda asal wajah anda menarik, mereka tidak akan perduli. Tragis memang, tapi dari dulu sudah begitu memang tabiat bangsa ini, dan jangan heran jika di tahun 2014 ini kita hamper tidak mengenali wajah para pemain sinetron yang gen-nya murni ke indonesiaan, karena di tahun 2006-2008 pola pikir remajanya juga sudah berpikir seperti itu, ada sih yang berwajah Indonesia jika tidak menjadi bahan bulan-bulanan untuk lelucon tidak penting kemungkinan besar jadi penjahat brengsek bisa pemerkosa, maling atau provokator, sepertinya itu mengambarkan kondisi moral rakyat Indonesia asli ?

Untuk siswi :
o   Sama seperti para siswa, bisa dengan seni atau dengan olah raga, umumnya  harus ditopang dengan wajah, bentuk tubuh yang enak dilihat (saya tidak tau standarnya mungkin bentuk tubuh yang membuat laki – laki langsung berpikiran ke ranjang) dan juga harus cantik, manis juga boleh.

Lalu tipe ke dua :
-          Tipe Jenius
Simple saja, kerjakan tugas sebelum waktu dikumpulkan, selalu menjawab dan bertanya pada pengajar, tidak banyak berbicara ketika guru menerangkan, selalu duduk dibangku dengan view terbaik, dan paling penting selalu berada di 3 besar peringkat terbaik sekolah jika kriteria itu terpenuhi tidak peduli apa jenis kelamin anda, apa genre film yang anda sukai, atau dengan siapa anda ingin melepas masa lajang anda anda akan dianggap jenius oleh rekan – rekan anda.

Tipe ke 3 :
-          Tipe Bedebah
Jika disekolah anda, menemukan beberapa tipe siswa dengan karakter seperti ini : wajah tidak terlalu menarik, secara akademik sangat buruk, sering tidak masuk sekolah (kecendrungan bolos), sering tawuran, dan melakukan tindak pidana ringan, terkadang keberadaannya di sekolah dianggap meresahkan seperti hama wereng bagi para petani. Nah, itu mungkin menggambarkan tipe siswa seperti itu. Bukan maksud menghina, menurut cerita – cerita motivasi yang kita dengar banyak orang sukses lahir dari tipe ini. Memang banyak, tapi yang lebih hancur ? saya rasa juga jauh lebih banyak. Karena menurut saya, tipe ini langsung membelah manusia nya menjadi 2, manusia yang mendapatkan season of live nya dan manusia yang tidak peduli apa yang terjadi hidupnya.

Tipe ke 4 :
-          Tipe Biasa aja
Berbeda dengan ke tiga tipe di atas, tipe ini merangkum semua tipe ke dalam satu tipe, menjadikannya satu kesimpulan yang unik. Misalnya, seperti Seseorang yang tidak ahli dalam olahraga tapi selalu ikut serta dalam pertandingan olahraga dan tidak menjadi pemeran utama ataupun menjadi pembantu pemeran utama, tipe ini layak seperti figuran sekilas kehadirannya tidak perlu, tapi bisa anda bayangkan bagaimana rasanya suatu film tanpa ada pemain figurannya ? pasti kelihatan tidak nyata.

                Sial bagi saya, sepertinya saya masuk ke tipe ke-4 tidak terlalu popular bahkan cendrung tidak popular sebenarnya saya juga tidak menginginkan popularitas, karena bagi saya terkenal dapat melenakan (BAH! Macam betul saja). Saya juga tidak pintar, nyaris biasa saja ibarat suatu tempurung kelapa yang akan diparut untuk menjadi santan tidak terlalu tua atau pun matang. Dan lebih sialnya lagi saya sekolah disalah satu SMA yang tidak terkenal di ujung kota medan. Sial bukan ? sudah menjadi siswa yang biasa saja di kutuk lagi untuk bersekolah di SMA yang biasa saja, terkutulah semuanya.

       


Artikel Menarik Lainnya

2 komentar

  1. huahahah.. setelah baca akhirnya tersadar bahwa diri ini juga merasa terlahir biasa saja >.<

    BalasHapus
  2. sebagian merasa terlahir patah hati,

    BalasHapus

Like us Facebook

Ikuti Saya